Kamis, 23 Maret 2017

Ketika Demam Curhat Melanda



Yap, lagi lagi soal cinta. Tapi seenggaknya gue percaya kalo gue mulai menuju jalan yang benar dalam hal mencintai tokoh kartun. Entah apakah nanti akan melenceng lagi atau ga ya gue juga ga bakal tau. (karena taunya ketika udah melenceng).

Di umur gue yang hampir seperempat abad ini
gue rasa bukan jumlah yang bijak untuk main-main. Gue si gatau tinggal berapa banyak sisa umur gue sekarang. Banyak yang bilang umur-umur (kumur-kumur keles :P) kaya gue adalah saatnya berkarya atau menghasilkan sesuatu biar masa tua gue jadi lebih baik (sumpah ini sok bijak).

Gue dengan sadar pun mengamini hal itu. Jauh di lubuk hati gue (kaya lagunya Naff band hehehe), gue juga punya beberapa keinginan dan angan tentang masa depan gue bakal kaya apa. Bukan cuma soal karir dan harta, tapi juga urusan cinta gue yang jadi pemikiran gue.

Karir cinta gue rasanya ga sebanding sama para pujangga cinta disana yang punya kisah sendiri yang aduhai, ibaratnya mereka karyawan sedangkan gue mahasiswa magang. Tapi, menurut porsi pribadi gue yang agak 'selengean' gini itu udah cukup buat gue melangkah seperti apa nantinya.

Satu hal yang sangat gue pikirkan saat ini adalah dengan siapa nanti gue menghabiskan sisa umur gue. Pertanyaan ini sebenernya cukup mengganggu gue (dasar jones, semua jomblo juga gitu hehehe). Wajar atau ga menurut opini beberapa orang, seumuran gue itu ga perlu terlalu mikirin soal jodoh karena biasanya umur ideal buat laki-laki itu adalah sekitar 3 atau 4 tahun lagi (diitung dari umur gue sekarang).

Gue dari awal gatau kenapa sangat tertarik buat menikah muda. Tapi beberapa orang pernah mencibir gue soal jikalau gue menikah muda. Ada yang bilang harus tunggu sukses lah, kematangan pribadi lah dan berbagai ukuran kesiapan lainnya.

Tapi sejujurnya hal itu sangat mengusik gue. Sukses kaya apa yang harus gue capai? Gue harus nunggu berapa lama buat nyampe 'sukses' dalam target yang orang pikirkan? Gimana kalo ternyata gue ga sesukses itu? Apakah artinya gue harus jomblo selamanya ?

Lalu, berapa lama gue dibilang cukup usia dan matang? Gue walaupun terlihat dewasa, tapi terkadang gue masih punya sifat anak-anak (yaiyalah tontonannya aja kartun, boboiboooy hehehe). Apakah gue harus nunggu gue punya uban dulu baru gue dianggep pantes buat nikah?

Semua pertanyaan itu berkaitan sama pertanyaan utama yang bikin sakit kepala, "berapa banyak waktu yang gue buang yang harusnya waktu tersebut bisa gue pake untuk membangun rumah tangga? " "Emangnya sisa umur gue cukup buat mencapai kriteria-kriteria tadi?" Lalu, harus berapa lama gue harus nanggung dosa karena ada wanita-wanita yang cuma bisa seliwera di kepala gue? cewek-cewek yang cuma bisa selalu gue seleksi di angan-angan gue.

Akhirnya gue berpikir kalo semuanya ini klise. Jodoh bukan soal kita udah siap atau ga, tapi soal kita merasa pasti siap atau ga. Ternyata yang dibutuhi itu adalah usaha dan keberanian karena ketika ditanya kesiapan, sampai kapan pun juga sebenernya kita ga pernah siap.

Sayangnya, jujur aja dua hal tadi adalah hal yang cukup sulit buat gue. Banyak sekali alibi-alibi gue yang cuma bisa nutupin ketakutan gue soal jodoh. Entah gue akan punya keajaiban yang seperti apa sampe akhirnya nanti gue punya pasangan yang sah.

Pada akhirnya gue cuma bisa mencoba berusaha, Berharap nanti ada wanita solehah yang mau sama gue. Sejujurnya, kalo ada hal yang paling males gue lakukan itu ya adalah menyatakan cinta ke seseorang. Tapi ya karena mungkin itu termasuk syarat supaya gue lepas dari jomblo ya mau ga mau harus gue lakukan.

Ga nyambung? Emang.

-pacul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar